Saturday, August 16, 2014

Pengusaha-pengusaha yang sukses tapi Drop Out pada saat kuliah

Hampir semua orang bisa menempuh pendidikan sampai jenjang perguruan tinggi adalah sebuah cita-cita yang mungkin sangat diidamkan. Apalagi jika kita bisa masuk ke salah satu Universitas ternama. Namun, tak selamanya kuliah bisa menjadi acuan kita untuk bisa meraih kesuksesan. Nah, disini admin akan mencoba memberitahu siapa-siapa saja kah pengusaha yang sangat sukses meskipun pendidikannya tidak sampai / drop out.

1. Bill Gates
Siapa yang tak mengenal Bill Gates di dunia ini, ya beliau adalah pendiri perusahaan Microsoft. Orang yang identik dengan kacamata ini adalah orang terkaya di muka bumi. Bahkan angka total kekayaannya mencapai 1000 Triliun, bisa anda bayangkan uang sebanyak itu ? :D . Beliau adalah salah satu contoh sukses pengusaha yang meninggalkan bangku kuliahnya di Harvard University untuk menggeluti dunia komputer bersama rekannya yaitu Steve Ballmer dan Paul Allen. Ketiganya adalah negosiator yang handal. Hal ini dibuktikan dengan kemampuan Bill Gates untuk bernegosiasi dengan perusahaan raksasa komputer IBM yang menawarkan sebuah Operating System buatan Microsoft untuk bersaing dengan Apple milik Steve Jobs, namun pada saat itu sendiri Microsoft tidak punya apa-apa untuk ditawarkan. Sehingga pada suatu hari Paul Allen disuruh untuk membeli Sisten Operasi dari kawannya dengan modal penjualan mobilnya. Sistem Operasi tersebut adalah DOS, Microsoft pun berkembang dan sekali lagi kemampuan Bill Gates bernegosiasi membuahkan hasil yaitu ketika dia menginginkan prototype dari Apple karena Apple berhasil mengembangkan Sistem Operasi dengan User Interface. Nah, mulai saat itu Microsoft dan Apple terlibat persaingan sengit.

2. Steve Jobs
Sama seperti Bill Gates, Steve Jobs juga DO dari kuliahnya karena ingin mengembangkan sebuah perusahaan komputer bernama Apple Inc. Bahkan kisah hidup Steve Jobs sudah difilmkan ke layar lebar. Memulai usaha dengan rekannya Steve Wozniack di sebuah garasi kecil milik orang tua anggkat Steve Jobs, perusahaannya cukup kualahan dalam memenuhi pembuatan motherboard kala itu. Dan pada akhirnya Steve muda meamnggil rekan-rekannya untuk membantunya dalam pembuatan motherboard sehingga pesanan dapat terpenuhi. Kisah sukses Jobs dimulai ketika rekannya Steve Wozniack menciptakan sebuah komputer rumahan pertama dengan menggabungkan keyboard dengan monitor yang pada saat itu adalah langka suatu komputer memiliki monitor. Berkat ide gemilangnya akhirnya Steve Jobs dan rekan-rekannya berhasil membuat komputer pertama yang diberi nama Lisa. Perusahaan Apple Inc. berkembang sangat pesat sehingga dinobatkan sebagai perusahaan paling bernilai pada tahun 2012.

3. Mark Zueckerberg
Pasti anak-anak muda sering sekali mengakses situs jejaring sosial yang satu ini, ya Facebook adalah media sosial yang sangat populer dan paling banyak digunakan di seluruh dunia. Baik untuk kepentingan bisnis, chatting dll. Nah, mungkin sebagian tidak mengetahui siapa pencipta situs ini, dia adalah Mark Zueckerberg. Dia adlah mahasiswa Harvard University yang Drop Out pada saat kuliah. Awalnya situs jejaring sosial ini punya nama The Facebook dan hanya digunakan di kalangan kampus Harvard saja. Namun seiring kepopulerannya terus meningkat akhirnya situs ini mengudara ke berbagai belahan dunia. Dan Mark dinobatkan sebagai Milyuner termuda di dunia.

Contoh 3 pengusaha teknologi sukses diatas dapat kita jadikan contoh, bahwa dengan adanya disiplin dan kerja keras serta kemamuan yang tinggi untuk mencapai sukses, kita bisa melewati rintangan-rintangan yang menghadang kita.

semoga sedikit artikel diatas dapat memberikan semangat dan inspirasi.

Sunday, June 29, 2014

BaBe - The best way to read online media

Ini adalah pengalaman pribadi saya selama menggunakan aplikasi BaBe ( Baca Berita ). Sempat bingung untuk membaca media online karena harus selalu pindah-pindah alamat website karena tidak mungkin alamat website yang ini akan memuat berita-berita alamat website yang itu. Setelah lama mencari-cari aplikasi apa yang bisa memecahkan masalah tersebut, tanpa disengaja saya menemukan aplikasi BaBe di Google Playstore. Kemudian saya baca tentang review aplikasi BaBe tanpa pikir panjang langsung saya install di Android saya. 

Pertama mencoba sungguh mengesankan semua berita ada dalam 1 aplikasi, konsep yang sangat bagus menurut saya, tanpa harus pindah-pindah alamat website semua berita bisa muncul di dalamnya dari berbagai media online terkemuka di Indonesia. Namun yang saya sayangkan biasanya susah untuk konek servernya, sehingga untuk memunculkan berita membutuhkan waktu yang lumayan lama. Setelah berbagai update yang dilakukan tim developer BaBe, akhirnya masalah loading ke server sudah agak cepat.

Saya akan mencoba mereview salah satu fitur yang membantu para penggila bola. Nah, ini adalah musim Piala Dunia jadi saya akan bahas fitur Pesta Bola Samba 2014. Dalam fitur Pesta Bola Samba 2014 banyak sekali pilihan yang bisa dipilih ada Berita Pesta Bola Samba 2014 yang isinya menampilkan semua update berita selama piala dunia Brazil. Berita Negara semua profil negara-negara peserta Piala Dunia lengkap ada di situ, kemudian ada Hasil pertandingan, jadwal dan klasemen yang memungkinkan para pembaca berita tetap update tentang hasil, jadwal dan klasemen yang bearti memudahkan pembaca untuk mengetahui hasil-hasil Piala Dunia 2014. Ada juga fitur Quizz di dalamnya yang menampilkan prediksi pertandingan. Menurut saya fitur Pesta Bola Samba sangat membantu saya dalam update berita Piala Dunia Brazil.

Untuk teman-teman yang ingin suatu aplikasi yang simple dalam membaca berita online tanpa harus susah-susah gonta-ganti alamat website, saya sarankan untuk download aplikasi BaBe ( Baca Berita ) di Google Playstore. Atau yang ingin langsung mencoba aplikasi BaBe ini bisa klik disini.


Tuesday, June 3, 2014

Kisah Inspiratif

Kisah Sukses Pedagang Kaki Lima (PKL)

Mungkin kita bisa terinsfirasi dengan membaca kisah ini, selamat membaca

Adi, Pedagang Kaki Lima yang Jadi Juragan Tas

Sudah banyak cerita pedagang kaki limayang kemudian menjadi pengusaha sukses. Salah satunya adalah Muhammad Adi, pemilik CV Intascus Sport, produsen tas yang cukup besar.

Bisa dibilang, Adi merintis usahanya ini benar-benar dari bawah. Pria tamatan sebuah SMA di Surabaya ini sudah kenyang makan asam garam sebagai pekerja rendahan.

Mulanya, selulus SMA pada 1981, Adi mencoba mengadu nasib merantau ke Sulawesi dengan menjadi buruh di sebuah toko agen barang pecah belah. Adi terpaksa merantau karena harus membantu membiayai sekolah adik-adiknya.

Namun, ia tidak lama bekerja di toko itu. Adi pun kemudian meloncat ke Kalimantan untuk bekerja sebagai buruh kasar di PT Newmont. Namun, lagi-lagi, Adi tak betah dan memutuskan pulang ke Surabaya.

Ternyata pulang ke rumah malah membuatnya gelisah, apalagi kalau melihat adik-adiknya yang membutuhkan bantuannya. Karena itu, pada 1982, Adi nekat ke Jakarta. Di ibu kota negara ini, Adi tinggal di kawasan Senayan berkat kebaikan sesama perantau asal Jawa Timur dan Jawa Tengah. "Mereka bekerja sebagai pelayan dan buruh," ujar pria kelahiran Surabaya, 12 April 1962 ini.

Untuk menyambung hidup, Adi bekerja serabutan. Pagi hingga siang hari ia menjadi penjual tas keliling dari kantor ke kantor. Malam harinya Adi menjadi juru parkir di Senayan.

Meski penghasilannya kecil, dengan sekuat tenaga Adi berusaha menyisihkan penghasilannya untuk modal berbisnis. "Modal pertama saya hanya Rp 50.000," kenang Adi.

Dengan uang segitu, Adi kulakan tas di Pasar Pagi untuk dijual kembali. Beruntung, dagangannya selalu habis terjual. "Hasil jualan saya putar lagi," kata bapak tiga anak ini.

Sayang, jiwa muda Adi yang masih bergelora membuatnya tergoda untuk berfoya-foya. Namun, setelah menikah pada 1985, Adi mulai berpikir serius menjadi pengusaha tas sendiri. Ketika itu, modalnya pun pas-pasan. "Saya terpaksa menjual perhiasan istri untuk modal awal," kata Adi. Lagi-lagi dengan uang Rp 50.000 Adi memulai usahanya.

Lantaran tak punya mesin jahit, Adi terpaksa meminjam milik temannya. Sedikit keahlian menjahit ia manfaatkan sebaik-baiknya.

Setelah enam bulan berjalan, usahanya mulai menampakkan hasil. Adi pun memberanikan diri menggaji seorang karyawan untuk meningkatkan produksi. Dengan satu karyawan itu, Adi mampu menghasilkan 150 tas per tahun seharga Rp 20.000 per tas. Dari harga segitu, Adi mengambil laba Rp 12.000 per tas. Maklum, modal membuat satu tas hanya Rp 8.000.

Sejak saat itu, setiap enam bulan sekali Adi menambah seorang karyawan. Untuk pemasaran, Adi memanfaatkan jaringan yang telah ia rintis saat masih berdagang tas keliling.

Pada 1987, Adi mulai menjalin kerja sama dengan panitia penyelenggara rapat atau pelatihan di hotel-hotel. "Pada 1987 saya sudah memiliki tenaga pemasaran 18 orang," tutur Adi.

Omzetnya pun telah melonjak hingga Rp 3 juta per hari, jumlah rupiah yang sangat besar kala itu. Sementara itu, total produksi mencapai 600 unit per hari. Laiknya roda kehidupan, posisi Adi tak selalu di atas. "Saya pernah kekurangan modal untuk menyelesaikan pesanan sampai harus menjual kendaraan operasional," tutur Adi.

Masa yang paling suram bagi Adi adalah saat pecah kerusuhan pada Mei 1998. Saat itu, para karyawannya ketakutan dan memilih pulang kampung. Sialnya, barang dagangan juga ikut mereka bawa hingga tak ada yang tersisa. "Saya rugi ratusan juta," kenang dia.

Toh, semangat Adi tidak pernah surut. Berbekal pinjaman bank, Adi mencoba bangkit. Beruntung, pada 1999 bisnis tas kantor kembali naik daun. Adi pun kembali menggenjot produksi dan mampu mencetak omzet Rp 50 juta per bulan.

Sekarang, dalam sebulan paling sedikit Adi memproduksi lebih dari 1.000 tas. "Omzetnya sekitar Rp 100 juta, dengan margin laba 20 persen sampai 40 persen," ungkap Adi. Kini, ia punya klien tetap dari instansi pemerintah, seperti Departemen Perhubungan dan Kepolisian Republik Indonesia.

Selain tas kantor, Adi juga memproduksi jenis tas lain, seperti tas perempuan. "Ini hasil belajar otodidak," ujar dia.

Bagi rezeki

Sudah menjadi kodrat, setiap orang membutuhkan orang lain. Begitu juga dalam bisnis. Karena itu, untuk memenuhi banyaknya pesanan tas, Muhammad Adi tak segan-segan membagi order ke konveksi lain. Adi mengatakan, kadang-kadang jumlah pesanan tas memang tak bisa ia tangani sendiri. Alhasil, daripada order lepas, ia membagi lagi (subkontrak) pesanan kepada konveksi lain. "Hitung-hitung berbagi rezeki dengan orang lainlah," ujar Adi.

Untuk pola kerja sama ini, Adi memilih menggunakan sistem bagi hasil yang ia nilai lebih adil. Artinya, keuntungan yang ia peroleh dari penjualan tas akan ia bagi ke pengusaha lain sesuai dengan porsi yang mereka kerjakan.

Soal pesanan, Adi tak terlalu khawatir. Pasalnya, ia sudah memiliki pelanggan tetap, yaitu Kepolisian Republik Indonesia dan Departemen Perhubungan.

Misalnya, Polri biasanya memesan tas kantor dua kali dalam setahun. Satu kali pesanan sebanyak 8.000 unit dengan tenggat waktu pengerjaan selama empat bulan. "Pesanan rutin ini baru empat tahun belakangan ini," imbuh Adi.

Di luar pesanan Polri, Adi biasanya menerima pesanan tas belanja dari biro perjalanan. "Jumlahnya memang tidak sebanyak pesanan Polri. Rata-rata 500 unit," kata Adi.


Sumber : bisnis.blogspot.com